Jumat, 04 Februari 2011

papa

Hari ini, sabtu 5 februari 2011 Indonesia digegerkan dengan meninggalnya adjie massaid. Terbesit dalam benakku ketika papa meninggalkan kami semua. Bagi seorang istri seperti Angie mungkin ini hal yang sulit. Begitu pula dengan mama, mama selalu menangis ketika teringat kenangan yang indah bersama papa dulu. Hatinya terluka seperti teriris pisau yang tajam. Mungkin lebih dari itu. Seorang istri yang mencintai suaminya yang selalu berada disamping papa harus berpisah untuk selamanya. Papa meninggal tanpa ada riwayat penyakit. Papa meninggal dini hari tgl 29 Juni 2008, malamnya papa keluar membelikan peralatan seperti setrika, colokan listrik, dsb. untuk dibawa masq layar. Dan jg masi membuat mie untuk kami. Aku, mas dan mama bercanda2 sebelum kami tidur. Pada saat itu papa mencoba parfum untuk mas yang aku ma mama beli. Aku bilang dalam bahasa jawa karena kami selalu berkomunikasi dengan bahasa jawa "ojo dijajal pa, larang kuwi". Saut papa "yoben sok lek aku duwe dhuwit tak tuku dhewe". Papa sambil tersenyum.
Malam mulai larut, dan kemudian papa tidur di kamar bersama adekq (sepupu tp sejak kecil udah bersama kami). Saat itu papa pijet2an dulu sama adekq, karena Papa memang suka pijet2an. Aku, mama dan masq tidur di ruang keluarga. Karena besok pagi mas harus berangkat dini hari untuk pagi balik ke surabaya.
Jam setengah 1 mama sudah bangun, menyiapkan segelas susu dan sepiring mie agar dimakan mas. Tiba2 ketika mama didapur mama mendengar ada yang mengigau dalam bahasa jawa "ngelindur". Setelah diliat ternyata papa yang mengigau. Mama membangunkan papa. Mama bertanya " ngelindur opo pa?". Papa menjawab "aku mau koyo' enek seng nekek ngono ma". Kemudian papa pergi ke kamar mandi untuk cuci muka. Setelah itu duduk di kursi ruang keluarga tempatku tidur. Saat itu aku belum begitu terbangun.
Kemudian papa menyuruh mama untuk menelpon om agar yang mengantarkan ke terminal om saja. Mama menelpon om joni. dan kemudian kembali ke dapur untuk membuatkan teh untuk papa. Tehnya sudah di meja, mama masih bersih2 didapur. Terdengar lagi suara igauan. Papa kembali mengigau dengan kencang, kemudian mama datang dan duduk disamping papa. Papa terlihat "tekluk" gitu. Mama memanggil2 papa, menyuruhq dan mas untuk memijat2 badan papa. Om Joni kemudian datang. Mama dengan penuh tangis menyuruh om untuk memanggil tetangga belakang rumah yang seorang bidan agar papa diperiksa kenapa. Apakah pingsan atau kenapa.Saat itu kami belum mengetahui keadaan papa yang sebenarnya. Bidan tersebut menyuruh langsung dibawa ke UGD aj. Dengan air mata yang terus menetes papa dibawa ke UGD. Sampai di UGD papa langsung diperiksa oleh dokter jaga. Kami menunggu diluar. Beberapa saat kemudian, dokter memanggil kami. Dan berkata " sudah nggak ad bu". Akupun langsung mencium pipi papa. Menangis deras sekali, sampai berteriak2. Masq pun yang kuat seperti itu juga menangis dan bearteriak2.
Mustahil papa meninggalkan kami secepat ini. Usia q baru mau menginjak 19 tahun. Masq baru 22 tahun. Sungguh mustahil. Aku nggak bisa percaya. Tapi inilah kehendak Allah YME. Tidak ada satu manusia pun yang bisa menolaknya. Hanya doa yang bisa kupanjatkan untuk papa. Dan berusaha membuat mama tersenyum indah dan bangga kepada kami. Allah pasti merencanakan sesuatu yang lebih indah di hari esok. Papa disisi Allah pasti lebih bahagia. Amin.
Buat temen2 yang masih memiliki ayah, sayangilah ayah kalian. Seperti kalian menyayangi mama kalian. Buatlah bahagia ayah kalian, buatlah beliau selalu tersenyum dan bangga terhadap kalian sampai akhir hayatnya. Love your father like's you love for your mother.
Salam cinta dan sayangku untuk papa disana. LUV U PAPA.

Tidak ada komentar: